Langsung ke konten utama

Bersyukur Jadi Petani

Sebenarnya, jika mau direnungkan, petani adalah manusia yang memiliki kehidupan damai. Teriknya mentari tak membuatnya harus mengeluh. Senang walau selalu berkecimbung dengan tanah kotor, mengapa? Karena mereka bebas mengatur cara kerja mereka sendiri. Siapa yang berani mengatur waktu kerja para petani?
Siapa yang berani memerintah petani?
Siapa yang berani memarahi petani? Tidak ada petani yang tergesa-gesa berangkat ke ladang karena takut dimarahi bos, mau telat satu menit atau satu jam bukan masalah. Mau pulang lebih awal? No problem. Pulang pergi dengan hati yang damai. Ini adalah point luar biasa yang jarang disadari oleh para petani itu sendiri. Bersyukurlah jadi petani.
Mari, kita sebagai petani lebih ditingkatkan lagi rasa syukur kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Pernah Meminjamkan PT atau CV Anda ke Pihak Lain

Sebuah forum jual beli menawarkan layanan pinjam PT/CV. Dengan kesepakatan khusus anda bisa mendapatkan ‘fee’ meminjamkan PT/CV ke pihak lain yang memerlukan.  Apa konsekuensi hukumnya? Berbisnis memang tidak selamanya mudah. Meski memiliki ide cemerlang dan kapabilitas dalam menjalankan bisnis, terkadang ada aspek lain yang luput dari perhatian anda. Misalnya kebutuhan untuk memiliki sebuah badan usaha. Di awal berbisnis, biasanya fokus anda lebih berat kepada jualan dibanding menyiapkan legalitas usaha. Barulah ketika bisnis anda berkembang dan mulai dihadapkan pada persyaratan baik yang ditentukan oleh undang-undang atau mitra bisnis, tidak bisa tidak anda harus mulai menyiapkan legalitas. Hampir seluruh proses tender di lingkungan pemerintah bahkan menyaratkan pesertanya harus berbentuk Perseroan Terbatas (PT) atau minimal CV, tidak cukup dengan perusahaan perorangan. Selain itu, rekam jejak dan portfolio dari PT atau CV tersebut kerap juga menjadi persyaratan. Disini kadang pe...