Suatu saat saya dapat proposal bisnis. Bagus sekali. Sangat visioner dan marketable. Pemerakarsa juga orang hebat. Dari CV nya bisa tahu bahwa dia orang well educated. Jadi tidak ada alasan saya meragukannya secara personal. Sebelum membuat keputusan, saya minta Raka atur saya bertemu secara personal dengan orang itu. Saya bertemu dengannya di restoran. Sengaja ajak makan siang. Berharap dia merasa nyaman. Sehingga bisa ngobrol secara terbuka tanpa jarak.
Saya kagum dengan visi dia. Penjelasannya sangat runtut. Dan wajahnya selalu tersenyum. Terkesan dia orang baik.
“ Anda kan orang hebat. Mengapa terlalu sulit bagi anda untuk dapatkan uang dan mitra bisnis. “ Kata saya dengan tersenyum. Saya mulai masuk dalam logika sederhana. Dia jelaskan secara detail alasanya itu. Tetapi alasan itu lebih banyak menyalahkan calon mitranya. Semua hal buruk calon mitra dia sampaikan. Bahka mitra lama dia ghibah. Saya tahu apa yang dia sampaikan itu sebagai upaya menempatkan dirinya orang yang di dzolimi. Dari itu dia berharap saya berempati. Tak perlu lagi meragukan dia. Usai makan siang. Kami berpisah.
Beberapa hari kemudian, dia datang menemui saya lagi. Dia tidak lagi minta raka atur pertemuan. Saya temui. Dia bawa temannya untuk membantunya meyakinkan saya. Termasuk meyakinkan bahwa dia orang di dzolimi oleh mitranya. Saya hanya tersenyum tanpa komentar berlebihan. Saya traktir saja mereka makan. Setelah itu saya pergi. Ketiga kali dia minta ketemu, saya diam saja WA dan SMS nya.
Raka telp saya tanyakan kelanjutan denga rencana bisnis yang dibawa calon mitra itu. Saya katakan singkat “ Closed file “.
“ Mengapa? kan proposalnya bagus. “ Kata Raka
“ Dia bukan pengusaha. Terlalu melankolis. Dunia bisnis itu dunia petarung. Meleng, dimakan. Bego jadi pecundang. Jadi egga ada istilah di dzolimi atau mendzolimi. Salah benar itu patokannya hukum. Pengadilan yang mutuskan. Bukan retorika. Kalau mau nyaman, jangan jadi pengusaha. Jadi pegawai saja.
“ Tapi dia pintar ?
“ Ya tapi tidak cerdas. Untuk jadi pengusaha diperlukan orang cerdas bukan pintar.”
“ Maksudnya ?
“ Engga baper dan engga mudah curhat kemana mana. Apalagi pria. Itu lebih rendah dari karakter perempuan. Nah kamu minta saya bermitra dengan orang seperti itu ? No way. “ Kata saya. Raka tersenyum.
Pesan moral. “ Hindari orang yang berghibah, karena lain waktu dia juga akan berghibah tentang anda. Tidak ada value berteman atau bermitra dengan orang yang doyan berghibah apalagi doyan buka aib orang lain. Secara spiritual dia sudah bangkrut.***
(Ghibah adalah perbuatan di mana kita membicarakan aib atau keburukan orang lain. Ghibah adalah salah satu perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan termasuk dalam perbuatan dosa besar. ... "Dan janganlah sebagian kalian ghibah (menggunjing) sebagian yang lain)*waki
Komentar
Posting Komentar